IPS Kelas 8 Semester 2 Pertemuan 10: Tiga Serangkai dan Gelombang Radikal Pergerakan Nasional
IPS Kelas 8 Semester 2 Pertemuan 10: Tiga Serangkai dan Gelombang Radikal Pergerakan Nasional
Selamat hari ini, Tiara!
Setelah minggu lalu kita melihat fajar pergerakan melalui Budi Utomo dan Sarekat Islam yang fokusnya masih pada pendidikan dan ekonomi, hari ini perjuangan bangsa kita naik kelas ke tingkat yang lebih berani. Kita akan mempelajari bagaimana para pemuda kita mulai berani menuntut kemerdekaan politik secara terang-terangan dan untuk pertama kalinya identitas nama "Indonesia" gaungkan di dunia. Mari kita simak kisahnya dengan penuh perhatian.
Informasi Kurikulum
- Capaian Pembelajaran (CP): Peserta didik mampu menganalisis kronologi, perubahan, dan kesinambungan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada masa kolonial dan pergerakan nasional.
- Tujuan Pembelajaran (TP): Menganalisis peran Indische Partij dan Perhimpunan Indonesia dalam mengembangkan semangat nasionalisme radikal menuntut kemerdekaan.
- Alur Tujuan Pembelajaran (ATP): Mengidentifikasi tokoh Tiga Serangkai, menganalisis artikel kritik Suwardi Suryaningrat, dan menjelaskan manifesto politik Perhimpunan Indonesia di Belanda.
- Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP): Siswa dapat menyebutkan anggota Tiga Serangkai, menjelaskan arti penting nama "Indonesia" bagi Perhimpunan Indonesia, dan menganalisis mengapa organisasi ini disebut bersifat radikal-nonkooperatif.
Landasan Pengetahuan
Nasionalisme yang matang memerlukan keberanian politik. Ketika kesadaran sebagai satu bangsa telah tumbuh, langkah berikutnya adalah memperjuangkan hak untuk mengatur pemerintahan sendiri. Melalui pemikiran tajam para tokoh di masa ini, kita belajar bahwa sebuah nama bukan sekadar panggilan, melainkan simbol pemersatu dan lambang kedaulatan yang sakral di hadapan hukum internasional.
Materi Utama: Menuntut Kemerdekaan Melalui Jalur Politik
1. Indische Partij (IP): Partai Politik Pertama (25 Desember 1912)
Tiara, jika organisasi sebelumnya masih malu-malu menyebutkan tujuan politik, tidak demikian dengan Indische Partij. Ini adalah partai politik pertama di Nusantara yang secara tegas mengusung tujuan kemerdekaan dan kerja sama antar-ras (Indo-Eropa dan Pribumi). Partai ini didirikan di Bandung oleh tiga tokoh legendaris yang dikenal sebagai Tiga Serangkai:
- E.F.E. Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi): Seorang keturunan Belanda yang justru sangat mencintai rakyat Indonesia dan membenci penjajahan.
- dr. Tjipto Mangoenkoesoemo: Seorang dokter pribumi yang sangat vokal mengkritik kepalsuan pemerintah kolonial Belanda.
- Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara): Seorang bangsawan Yogyakarta yang menggunakan penanya yang tajam untuk menyerang kebijakan Belanda.
Semboyan mereka yang sangat terkenal adalah "Indie voor Indiers" yang artinya Hindia (Indonesia) adalah untuk orang-orang yang menetap di Hindia, bukan untuk bangsa Belanda di Eropa.
2. Kritikan Tajam: "Seandainya Aku Seorang Belanda"
Pada tahun 1913, pemerintah Belanda di Nusantara berencana merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis. Ironisnya, mereka memungut biaya perayaan tersebut dari rakyat Nusantara yang sedang mereka jajah.
Melihat ketidakadilan ini, Suwardi Suryaningrat menulis sebuah artikel sarkas dalam bahasa Belanda berjudul "Als ik eens Nederlander was" yang artinya **Seandainya Aku Seorang Belanda**. Dalam tulisan itu, ia menyindir betapa tidak tahu malunya bangsa Belanda yang merayakan kemerdekaan di tanah bangsa lain yang sedang mereka tindas. Akibat tulisan yang mengguncang ini, Tiga Serangkai ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. IP pun dilarang berdiri oleh Belanda karena dianggap terlalu berbahaya.
3. Perhimpunan Indonesia (PI): Mengguncang Dunia dari Negeri Penjajah
Kisah perjuangan berlanjut justru di jantung pertahanan musuh, yaitu di negeri Belanda. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana awalnya mendirikan organisasi sosial bernama Indische Vereeniging pada 1908. Namun, seiring waktu, organisasi ini berubah menjadi organisasi politik yang sangat radikal.
Pada tahun 1925, di bawah kepemimpinan Mohammad Hatta, organisasi ini mengubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) dan majalah mereka dinamakan Indonesia Merdeka. Ini adalah momen yang sangat bersejarah, Tiara, karena untuk pertama kalinya kata "Indonesia" digunakan secara resmi menggantikan istilah "Hindia Belanda" sebagai identitas politik kita.
4. Manifesto Politik 1925 dan Prinsip Non-Kooperasi
Perhimpunan Indonesia mengeluarkan pernyataan bersikap atau **Manifesto Politik** yang isinya menegaskan bahwa kemerdekaan hanya bisa dicapai oleh usaha bangsa Indonesia sendiri, bukan hadiah dari Belanda. Mereka mengusung prinsip Non-Kooperatif, yang artinya menolak keras bekerja sama dalam bentuk apa pun dengan pemerintah penjajah.
Mohammad Hatta memimpin para mahasiswa untuk membawa isu penjajahan Indonesia ke forum-forum internasional di Eropa, seperti di Prancis dan Belgia, guna mendapatkan dukungan dunia. Langkah cerdas ini membuat pemerintah Belanda ketakutan, hingga Hatta dan beberapa temannya sempat ditangkap dan diadili di Belanda pada tahun 1927, meskipun akhirnya dibebaskan karena pembelaan Hatta yang luar biasa di pengadilan.
5. Deskripsi Naratif: Dinginnya Eropa dan Ketajaman Pena
Tiara, coba kita bayangkan suasana di sebuah kamar sewaan yang dingin di kota Leiden, Belanda. Di luar, salju mungkin sedang turun, sangat berbeda dengan tanah air kita yang tropis. Di dalam kamar itu, sekelompok mahasiswa muda berkumpul mengitari meja kayu. Di atas meja ada tumpukan buku hukum, kertas-kertas tulisan, dan secangkir kopi hangat.
Di antara mereka ada Mohammad Hatta yang sedang menulis dengan serius. Jemarinya yang dingin menggerakkan pena dengan cepat, merangkai kata demi kata untuk majalah *Indonesia Merdeka*. Mereka tidak memiliki senjata api, tetapi pemikiran mereka yang dituangkan dalam lembaran kertas itu diselundupkan kembali ke tanah air, melintasi samudra, dan dibaca secara sembunyi-sembunyi oleh para pemuda di Nusantara. Tulisan itu membakar keberanian rakyat jelata untuk mulai berani meneriakkan satu kata suci: Indonesia.
Refleksi dan Evaluasi
Mari kita ulas pemahaman kita melalui pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Mengapa artikel Suwardi Suryaningrat yang berjudul "Seandainya Aku Seorang Belanda" membuat pemerintah Belanda sangat marah hingga menjatuhkan hukuman pengasingan?
- Perhimpunan Indonesia memilih untuk berjuang dari dalam negeri Belanda itu sendiri. Menurut pendapat kita, apa keuntungan dan kerugian berjuang di jantung pertahanan penjajah?
- Mengapa perubahan nama dari "Hindia Belanda" menjadi "Indonesia" oleh Perhimpunan Indonesia dianggap sebagai langkah politik yang sangat besar dan penting bagi persatuan bangsa?
Komentar
Posting Komentar