Bahasa Indonesia Kelas 8 Semester 2 Pertemuan 9 - Seni Menekan dan Menghaluskan Perasaan

Bahasa Indonesia Kelas 8 Semester 2 Pertemuan 9: Seni Menekan dan Menghaluskan Perasaan

Salam Pembuka

Selamat hari ini, Tiara!

Bagaimana kabarmu hari ini? Senang sekali bisa kembali menemanimu belajar. Hari ini kita akan menambah dua lagi "alat ajaib" dalam berbahasa. Kita akan belajar cara menekankan sebuah pesan agar lebih diingat dan cara menghaluskan kata agar terdengar lebih sopan. Mari kita mulai!

Informasi Kurikulum

  • Tujuan Pembelajaran (TP): Siswa mampu memahami penggunaan majas Repetisi untuk penekanan dan majas Eufemisme untuk kehalusan bahasa.
  • Alur Tujuan Pembelajaran (ATP): Mengulang kembali majas Onomatope dan Metonimia, serta mengidentifikasi penggunaan kata-kata halus dalam komunikasi sosial.
  • Kriteria Ketercapaian (KKTP): Siswa mampu mengenali pengulangan kata sebagai bentuk penekanan dan mengubah kata kasar menjadi kata yang lebih halus (eufemisme).

Tinjauan Materi Sebelumnya (Review)

Sebelum lanjut, mari kita ingat kembali pelajaran minggu lalu melalui dua contoh singkat:

  • Onomatope (Bunyi): "Kring-kring!" Suara bel sepeda itu terdengar nyaring. (Meniru bunyi asli).
  • Metonimia (Label): "Kakak memompa ban dengan Pompa Injak." atau "Ayah sedang menyesap Kapal Api pagi ini." (Menyebut merek untuk menggantikan benda aslinya).

Materi Utama: Majas Repetisi dan Eufemisme

1. Majas Repetisi (Si Pengulang Tegas)

Repetisi artinya pengulangan. Majas ini mengulang kata yang sama berkali-kali untuk menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Dalam pidato atau puisi, ini memberikan efek semangat dan penekanan yang kuat.

  • Contoh: "Cinta adalah kesabaran, cinta adalah pengorbanan, dan cinta adalah ketulusan hati."
  • Contoh: "Kita harus maju, terus maju, dan pantang mundur untuk mencapai cita-cita."

2. Majas Eufemisme (Si Penghalus Rasa)

Eufemisme digunakan untuk mengganti kata-kata yang dirasa kasar, kurang sopan, atau menakutkan dengan kata yang lebih halus dan santun. Ini sangat penting dalam etika berbicara sehari-hari.

  • Kata Kasar: Mati -> Eufemisme: Meninggal dunia atau Berpulang ke Rahmatullah.
  • Kata Kasar: Buta -> Eufemisme: Tunanetra atau Kurang penglihatan.
  • Kata Kasar: Pengangguran -> Eufemisme: Tunakarya atau Sedang mencari kerja.
  • Contoh Kalimat: "Mohon maaf, saya izin ke belakang sebentar." (Kata "ke belakang" lebih halus daripada menyebutkan ingin ke kamar mandi atau toilet).

Latihan Mandiri dan Kunci Jawaban

Coba uji pemahamanmu dengan menjawab soal berikut, lalu cek kuncinya di bawah!

Pertanyaan:

  1. Ubah kalimat ini menjadi lebih halus (Eufemisme): "Orang miskin itu butuh bantuan."
  2. Kalimat ini menggunakan majas apa? "Aku ingin belajar, aku harus belajar, dan aku pasti bisa belajar dengan baik."
  3. Sebutkan satu contoh Onomatope (kata bunyi) yang kamu dengar saat gelas pecah!

Kunci Jawaban:

  • 1. "Keluarga kurang mampu itu memerlukan bantuan." (Lebih sopan daripada kata miskin).
  • 2. Majas Repetisi (karena mengulang kata "belajar").
  • 3. Prang! atau Pyar!

Referensi Tambahan

Daftar Kata Eufemisme di Wikipedia

Refleksi

Tiara, menurut pendapatmu, mengapa kita perlu menggunakan majas Eufemisme saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang baru kita kenal?

Daftar Pustaka

  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Bahasa Indonesia: SMP Kelas VIII.
  • Tarigan, Henry Guntur. (2013). Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IPA Kelas 8 – Pertemuan 6: Jaringan pada Hewan (Jenis, Ciri, dan Fungsi)

IPA Kelas 8 – Pertemuan 3: Perbandingan dan Peran Makhluk Hidup Bersel Satu dan Banyak

Seni Budaya Kelas 8 – Pertemuan 3: Jenis Dinamika dalam Musik