IPS Kelas 8 Semester 2 Pertemuan 6: Kembalinya Belanda dan Kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel)

IPS Kelas 8 Semester 2 Pertemuan 6: Kembalinya Belanda dan Kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel)

Selamat hari ini, Tiara!

Hari ini kita akan mempelajari babak baru setelah masa singkat kekuasaan Inggris. Kita akan melihat bagaimana diplomasi di Eropa menyebabkan Belanda kembali berkuasa di Nusantara dan memulai kebijakan Tanam Paksa yang sangat memberatkan rakyat. Mari kita telusuri mengapa Inggris harus pergi dan apa yang terjadi setelahnya.

Informasi Kurikulum

  • Capaian Pembelajaran (CP): Peserta didik mampu menganalisis kronologi, perubahan, dan kesinambungan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada masa kolonial dan perlawanan bangsa Indonesia.
  • Tujuan Pembelajaran (TP): Menjelaskan latar belakang kembalinya Belanda ke Indonesia dan dampak pelaksanaan Tanam Paksa (Cultuurstelsel).
  • Alur Tujuan Pembelajaran (ATP): Menganalisis isi Konvensi London 1814, mengidentifikasi tokoh pencetus Tanam Paksa, dan mendeskripsikan penderitaan rakyat akibat kebijakan tersebut.
  • Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP): Siswa dapat menjelaskan alasan Inggris menyerahkan kembali Nusantara kepada Belanda dan menyebutkan minimal dua penyimpangan dalam Tanam Paksa.

Landasan Pengetahuan

Dalam politik internasional, nasib suatu wilayah sering kali ditentukan oleh perjanjian di meja perundingan yang jauh dari wilayah tersebut. Kembalinya Belanda ke Indonesia adalah hasil dari kesepakatan diplomatik di Eropa. Hal ini mengajarkan kita bahwa kedaulatan sebuah bangsa sangat bergantung pada kekuatan diplomasi dan posisi tawar di mata dunia.

Materi Utama: Diplomasi Eropa dan Era Tanam Paksa

1. Mengapa Inggris Pergi? (Konvensi London 1814)

Tiara, mungkin kita bertanya-tanya, jika Raffles membawa banyak kemajuan ilmu pengetahuan, mengapa Inggris pergi? Jawabannya bukan karena kekalahan perang di Nusantara, melainkan karena politik di Eropa. Setelah Napoleon Bonaparte (Prancis) kalah, peta kekuasaan di Eropa disusun ulang.

Inggris dan Belanda menandatangani Konvensi London pada tahun 1814. Isi utama perjanjian ini adalah Inggris setuju untuk mengembalikan tanah jajahan yang sebelumnya direbut dari Belanda, termasuk Nusantara. Inggris melakukan ini agar Belanda tetap kuat sebagai negara "penyangga" di Eropa untuk menahan ambisi Prancis di masa depan. Maka, pada tahun 1816, kekuasaan resmi beralih kembali dari Inggris ke Belanda.

2. Latar Belakang Tanam Paksa (Cultuurstelsel)

Setelah Belanda kembali, mereka mendapati kas negara yang kosong akibat Perang Napoleon di Eropa dan perlawanan besar dari rakyat Indonesia, seperti Perang Diponegoro (1825-1830). Untuk menyelamatkan Belanda dari kebangkrutan, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mencetuskan sistem Tanam Paksa pada tahun 1830.

Inti dari sistem ini adalah mewajibkan desa-desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor yang laku di Eropa, seperti kopi, tebu, dan nila (indigo).

3. Penyimpangan dalam Praktiknya

Meskipun memiliki aturan resmi, dalam praktiknya terjadi banyak penindasan karena adanya sistem Cultuurprocenten (bonus bagi pejabat yang melampaui target). Beberapa penyimpangannya antara lain:

  • Jatah tanah untuk tanaman ekspor seringkali melebihi sepertiga, bahkan separuh lahan desa.
  • Tanah yang digunakan adalah tanah yang paling subur, sehingga rakyat kehilangan lahan terbaik untuk menanam padi.
  • Waktu untuk merawat tanaman ekspor sangat menyita waktu, sehingga rakyat tidak sempat mengurus sawah mereka sendiri.
  • Beban pajak tetap harus dibayar oleh petani, meskipun mereka sudah bekerja untuk pemerintah.

4. Deskripsi Naratif: Suasana Kelaparan

Tiara, coba kita bayangkan suasana di daerah Cirebon atau Demak pada tahun 1840-an. Kita mungkin akan mendengar kesunyian yang mencekam di desa-desa karena banyak rakyat yang lemas akibat kelaparan. Sawah padi menguning tapi tidak ada yang memanen karena petani dipaksa bekerja di perkebunan tebu milik Belanda. Ironisnya, di saat rakyat kita menderita, pelabuhan-pelabuhan penuh dengan kapal yang mengangkut rempah dan gula menuju Belanda untuk membangun kemakmuran di sana.

Refleksi dan Evaluasi

  1. Berdasarkan isi Konvensi London, apakah rakyat Indonesia memiliki suara dalam menentukan siapa yang memimpin mereka saat itu? Jelaskan pendapat kita.
  2. Mengapa bonus (Cultuurprocenten) menjadi penyebab utama terjadinya penindasan oleh sesama bangsa sendiri (pejabat lokal) terhadap rakyatnya?
  3. Apa perbedaan yang kita rasakan antara tujuan Inggris berkuasa dengan tujuan Belanda saat kembali dengan sistem Tanam Paksanya?

Daftar Pustaka

  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2021. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  • Vlekke, Bernard H.M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. (Sumber mengenai Konvensi London dan transisi kekuasaan).
  • Fasseur, Cornelis. 1992. The Politics of Colonial Exploitation. Ithaca: Cornell University Press. (Sumber mengenai mekanisme dan dampak Cultuurstelsel).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IPA Kelas 8 – Pertemuan 6: Jaringan pada Hewan (Jenis, Ciri, dan Fungsi)

IPA Kelas 8 – Pertemuan 3: Perbandingan dan Peran Makhluk Hidup Bersel Satu dan Banyak

Seni Budaya Kelas 8 – Pertemuan 3: Jenis Dinamika dalam Musik