Seni Budaya Kelas 8 Semester 2: Menelusuri Marwah Lewat Gurindam Dua Belas
Seni Budaya Kelas 8 Semester 2: Menelusuri Marwah Lewat Gurindam Dua Belas
Selamat hari ini, Tiara! Hari ini kita memulai petualangan baru di semester genap. Meskipun kita hanya bertemu dua minggu sekali, setiap pertemuan ini akan menjadi ruang bagi kita untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya tanah kelahiran kita, Riau. Hari ini, kita akan menyelami kedalaman makna dari salah satu karya sastra terbesar di dunia Melayu, yaitu Gurindam Dua Belas.
Informasi Kurikulum
- Capaian Pembelajaran (CP): Peserta didik mampu mengapresiasi dan memahami nilai-nilai kearifan lokal dalam karya seni sastra dan musik daerah sebagai bagian dari identitas budaya.
- Tujuan Pembelajaran (TP): Peserta didik dapat menganalisis makna filosofis dan struktur Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.
- Alur Tujuan Pembelajaran (ATP): Mengidentifikasi sejarah, struktur penulisan, dan pesan moral dalam bait-bait Gurindam Dua Belas.
- Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP): Tiara mampu menjelaskan pengertian gurindam, menyebutkan ciri khas Gurindam Dua Belas, dan menginterpretasikan pesan dalam salah satu pasalnya.
Landasan Budaya dan Hukum
Karya sastra bukan sekadar deretan kata, melainkan identitas bangsa. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menyatakan bahwa perlindungan budaya bertujuan untuk memperkokoh jati diri bangsa. Raja Ali Haji, sang penulis Gurindam Dua Belas, telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena jasanya dalam bidang bahasa dan sastra Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.
Materi Utama: Mengenal Marwah dalam Gurindam Dua Belas
1. Apa itu Gurindam?
Mari kita bayangkan sejenak. Jika pantun memiliki empat baris dengan sampiran dan isi, maka gurindam lebih ringkas namun sangat tajam. Gurindam adalah bentuk puisi lama yang terdiri dari dua baris dalam satu bait. Hubungan antara baris pertama dan kedua adalah hubungan sebab-akibat. Baris pertama berisi syarat atau persoalan, dan baris kedua berisi jawaban atau akibatnya.
2. Sejarah Raja Ali Haji dan Pulau Penyengat
Gurindam Dua Belas ditulis pada tahun 1847 di Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau. Raja Ali Haji menulis karya ini bukan sekadar untuk dibaca, melainkan sebagai pedoman hidup atau peta jalan moral bagi masyarakat Melayu agar selalu memiliki marwah atau kehormatan diri.
3. Struktur Gurindam Dua Belas
Karya ini disebut Gurindam Dua Belas karena terdiri dari dua belas pasal. Setiap pasal membahas tema yang berbeda, mulai dari masalah agama, kewajiban anak terhadap orang tua, hingga tugas seorang pemimpin. Bagi masyarakat Riau, Gurindam ini adalah mahkota dari segala tutur kata.
4. Bedah Makna: Pasal Kelima
Mari kita resapi Pasal Kelima yang sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai pelajar. Bunyinya sebagai berikut: Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa. Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangatkan memelihara yang sia-sia.
Pada kalimat pertama, diajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak dilihat dari penampilan fisik, melainkan dari budi pekerti dan cara berbicara. Pada kalimat kedua, dijelaskan bahwa kunci kebahagiaan adalah dengan menghindari hal-hal yang tidak berguna.
5. Cengkok dan Irama
Gurindam dibacakan dengan irama yang disebut Cengkok Melayu. Nadanya cenderung mendayu dan dibawakan dengan penuh perasaan. Suara menjadi instrumen utama untuk menyampaikan getaran pesan moral tersebut kepada pendengar.
Naskah Lengkap Gurindam Dua Belas
Berikut adalah naskah lengkap dari Pasal 1 sampai Pasal 12 sebagai bahan literasi kita:
Pasal 1
Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Pasal 2
Barang siapa mengenal Yang Tersebut, tahulah ia makna takut. Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang.
Pasal 3
Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita. Apabila terpelihara kuping, kabar yang jahat tiadalah damping.
Pasal 4
Hati itu kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim segala anggota pun rubuh. Barang siapa meninggalkan setia, tiada boleh dipercayai barang siapa jua.
Pasal 5
Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa. Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangatkan memelihara yang sia-sia.
Pasal 6
Cahari olehmu akan sahabat, yang boleh dijadikan obat. Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.
Pasal 7
Apabila banyak berkata-kata, di situlah jalan masuk dusta. Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampirkan duka.
Pasal 8
Barang siapa mendatangkan fitnah, bagaikan menanam ranjau dan manah. Pekerjaan marah jangan dibela, nanti menjadi ia gila.
Pasal 9
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan, bukannya manusia itulah syaitan. Kejahatan diri disembunyikan, kebajikan diri didiamkan.
Pasal 10
Dengan bapak sangatkan berbakti, supaya Allah karuniakan bakti. Dengan ibu hendaklah hormat, supaya badan dapat selamat.
Pasal 11
Hendaklah berjasa kepada yang sebangsa. Hendaklah jadi kepala, buanglah perangai yang cela.
Pasal 12
Raja mufakat dengan menteri, seperti kebun berpagarkan duri. Betul hati kepada raja, tanda jadi sebarang kerja.
Refleksi dan Evaluasi
Setelah membaca dan mendengarkan penjelasan di atas, silakan Tiara tuliskan pemikiran Tiara di kolom komentar blog ini:
- Menurut pendapat Tiara, mengapa budi pekerti dan cara bicara lebih penting daripada penampilan fisik dalam menentukan kehormatan seseorang?
- Dari dua belas pasal yang tersedia, pilihlah satu bait selain pasal kelima yang paling menarik perhatian Tiara, lalu jelaskan alasannya secara singkat.
Daftar Pustaka
- Haji, Raja Ali. 1847. Gurindam Dua Belas. Naskah Asli Pulau Penyengat, Riau.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Guru Seni Budaya Kelas VIII. Jakarta.
- Hamidy, U.U. 2003. Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press.
Komentar
Posting Komentar